Krisis Real Madrid dan Cinta Buta Florentino Perez kepada Gareth Bale

GoalGoal365 Florentino Perez barangkali baru menyadari bahwa cinta telah membutakannya. Memberikan hati kepada Gareth Bale telah mengaburkan segala kebenaran di hadapan Presiden Real Madrid itu.

Presiden Real Madrid, Florentino Perez, sedang pusing dengan performa Los Blancos yang jauh dari kata memuaskan.

Tim kebanggaan publik Madrid ini sedang mengalami krisis kemenangan dan gol. Dalam empat laga terakhir mereka menelan tiga kekalahan dan tidak mencetak satu gol pun.

Tiga tim yang mengalahkan mereka juga bukan tim raksasa: Sevilla, CSKA Moskva, dan Deportivo Alaves.

Deretan hasil hingga pertengahan Oktober 2018 bahkan membuat Julen Lopetegui sebagai pelatih Real Madrid dengan start terburuk dalam satu dekade.

Kehilangan Cristiano Ronaldo dan pelatih Zinedine Zidane secara bersamaan diyakini sebagai penyebab utama penampilan buruk Real Madrid.

Sejatinya, Real Madrid tidak harus kehilangan keduanya berbarengan, karena semula hanya Ronaldo yang akan angkat kaki dari Santiago Bernabeu.

Andai Zidane bertahan sesuai rencana awal, Real Madrid tak akan kehilangan arah seperti saat ini.

Dalam dunia ideal, Zinedine Zidane masih berada di bangku cadangan Real Madrid dan memastikan segala hasil buruk tersebut tidak terjadi.

Namun, cinta Florentino Perez kepada Gareth Bale mengaburkan semua itu. Julen Lopetegui yang kini meneriaki pemain dari pinggir lapangan, bukan Zidane.

Seperti yang diwartakan media Spanyol, El Pais, kepergian Zidane adalah keputusan yang tiba-tiba.

Jika hengkangnya Cristiano Ronaldo sudah tampak dari penyataannya usai final Liga Champions 2017-2018, kepergian Zidane begitu mendadak.

Masih dari klaim El Pais, Zidane hengkang karena tidak senang dengan sikap Florentino Perez.

Pada pertengahan musim 2017-2018, pelatih asal Prancis itu ingin Gareth Bale ditendang dari Real Madrid saat musim berakhir.

Menurut sang pelatih, Bale tak disiplin setiap kali bermain. Perez mengiyakan permohonan Zidane dan mengajukan nama Neymar sebagai pengganti.

Namun, pelatih 46 tahun tersebut berkata tidak dan meminta Eden Hazard. Andai gagal, ia minta Mohamed Salah atau Harry Kane. Perez kembali mengiyakan.

Akan tetapi, Perez sepertinya masih cinta dengan bintang asal Wales itu. Hanya berbekal dua gol di final Liga Champions musim lalu, Bale mampu merebut hati Perez dan membuatnya lupa pada janji kepada Zidane.

Pasca laga final, pengusaha asal Spanyol tersebut mengubah keputusannya dan menjanjikan tempat utama Real Madrid musim 2018-2019 kepada Gareth Bale, tanpa sepengetahuan Zinedine Zidane.

Mengetahui itu, Zizou murka dan memilih melepas jabatan pelatih Real Madrid. Mendung pun langsung menaungi Kota Madrid.

Sebelum musim bergulir, Perez harus mencari pelatih anyar. Sial bagi pria berkacamata itu, karena penolakan demi penolakan ia terima.

Sederet opsi nama pelatih yang ia idam-idamkan sepakat mengatakan “tidak”. Mulai Mauricio Pochettino, Julen Nagelsmann, Juergen Klopp, hingga Massimiliano Allegri.

Respons positif kemudian datang dari Julen Lopetegui. Pelatih yang belum pernah kalah bersama timnas Spanyol, tetapi belum pernah teruji di turnamen akbar.

Performa acak-adul Real Madrid saat ini bukan satu-satunya dampak cinta buta Perez kepada Bale. Sejak menapakkan kaki ke Santiago Bernabeu, Bale sudah membuat Perez gelap mata.

Sang presiden memaksa Mesut Oezil hengkang demi memberikan tempat dan mengurangi beban biaya transfer Bale.

Dengan uang 101 juta euro untuk mengantar Gareth Bale ke Real Madrid, penjualan Oezil ke Arsenal hampir menutup separuh biaya tersebut (47 juta euro).

Keputusan melepas Oezil membuat sebagian orang mengenyitkan dahi. Bagaimana tidak? Oezil adalah raja assist Eropa saat itu.

Pada musim 2010-2011, playmaker timnas Jerman ini bahkan menciptakan 28 assist di semua ajang dan menjadi angka tertinggi sepanjang sejarah di Eropa.

Semusim berikutnya, ia menajamkan angka tersebut menjadi 29 assist.

Cristiano Ronaldo kabarnya tidak senang dengan keputusan tersebut karena ia kehilangan sosok pelayan yang memudahkan tugasnya merobek gawang lawan. Cinta buta Florentino Perez kepada Gareth Bale mengabaikan fakta itu.

Selain itu, Perez seolah lupa dan mengulangi kesalahan yang terjadi pada 2003. Ia pernah berbeda paham dengan Zidane saat menjual Claude Makelele dan mendatangkan David Beckham.

“Dia bukan penyundul bola yang baik dan dia jarang mengoper bola lebih dari tiga meter. Para pemain muda datang dan akan memastikan Makelele dilupakan,” kata Perez soal Makelele.

Zidane membalas komentar tersebut dengan kutipan yang masih populer sampai sekarang: “Buat apa memberikan lapisan emas pada cat mobil Bentley ketika Anda kehilangan seluruh mesin?”

Benar saja apa yang dikatakan Zidane bahwa timnya kehilangan mesin di lini tengah. Alih-alih lupa pada Makelele, Real Madrid justru lupa bagaimana cara meraih gelar juara.

Lini tengah mereka tidak seimbang akibat tak ada yang membantu pertahanan ketika Zidane, Luis Figo, David Beckham, Guti, atau Santiago Solari menyerang.

Sejak membiarkan Makelele pergi hingga lengser pada 2006, Florentino Perez hanya mendapati titel Piala Super Spanyol 2003-2004 dan Liga Spanyol 2006-2007 di lemari piala klub. Musim ini kesalahan serupa tampak jelas terulang dengan keinginan Zidane tak digubris.

Kecintaan terhadap Bale sampai membutakan mata Perez dari talenta bernama Eden Hazard. Pandangan Perez ke arah Hazard terhalang oleh Bale, bak matahari yang terhalang bulan.

Hazard menjadi salah satu bintang yang menarik perhatian di Piala Dunia 2018. Tidak sekadar bintang, ia adalah kapten dari generasi emas Belgia yang meraih peringkat ketiga di ajang tersebut.

Ia juga menjadi sosok vital saat Chelsea merengkuh gelar Liga Inggris besama dua pelatih berbeda, Jose Mourinho (2014-2015) dan Antonio Conte (2016-2017).

Sebaliknya, di level timnas, kekuatan Bale gagal membawa Wales berbicara lebih banyak setelah menjadi semifinalis Piala Eropa 2016.

Di level klub, daripada berperan dalam tim, Bale lebih sering berbincang dengan tenaga medis Real Madrid. Sebuah data yang dihimpun AS semakin menguatkan pernyataan itu.

AS menunjukkan bahwa Bale tak bisa menjadi tumpuan Real Madrid guna meraih trofi demi trofi setiap musim.

Media berbasis di Kota Madrid ini menyampaikan bahwa Bale rata-rata bermain tidak lebih dari separuh musim sejak berseragam Real Madrid.

Winger yang semula berposisi bek sayap ini rata-rata hanya bermain 53 persen dari total menit pertandingan yang dimainkan Real Madrid di semua ajang.

Bale bahkan bermain tak lebih dari 50 persen dalam tiga musim terakhir. Artinya, pemain berkaki kidal tersebut rata-rata hanya mampu bermain selama separuh kompetisi.

Cedera menjadi alasan utama minimnya menit bermain Bale. Sejak 2013, ia mengalami 13 jenis cedera berbeda selama membela Real Madrid.

Pemain kelahiran Cardiff itu harus absen sebanyak 67 laga, belum termasuk cedera yang saat ini ia alami. Tak ada musim di mana Bale tidak mengalami cedera.

Sebagai sesama pemain yang mengandalkan dribel dan kecepatan, serta sering menjadi sasaran terjangan lawan, Eden Hazard jelas jauh lebih baik.

Bintang kelahiran La Louviere, Belgia itu mengalami 10 jenis cedera sejak bergabung dengan Chelsea dan hanya melewatkan 17 partai. Hazard bahkan sama sekali tidak mengalami cedera pada musim 2013-2014, 2014-2015, musim lalu, dan musim ini.

Kalau sudah begini, tampak jelas bahwa Gareth Bale bukan sosok yang bisa mengisi peran Cristiano Ronaldo sebagai tumpuan utama Real Madrid.

Bagaimana Anda bisa membantu tim meraih gelar jika mengunjungi ruangan medis sudah sesering mendatangi tempat nongkrong bersama kerabat?

Saya menduga Bale dipertahankan bukan untuk mendongkrak prestasi Real Madrid, namun untuk membuat kemampuan paramedis Real Madrid semakin teruji.

author
No Response

Leave a reply "Krisis Real Madrid dan Cinta Buta Florentino Perez kepada Gareth Bale"